Kamis, 28 Mei 2020

Idul Fitri Masa Pandemi Kuatkan Iman n Taqwa

  • Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia, Walaupun saat ini kita dalam masa pandemi, namun alhamdulillah, pagi ini kita masih diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan. Meskipun saat ini kita dalam masa-masa yang sulit, tapi alhamdulillah, pagi ini kita masih diberi kekuatan untuk merayakan hari kemenangan yang penuh kebahagiaan. Semoga kita dianugerahi umur yang panjang sehingga dapat kembali menikmati kelezatan ibadah pada Ramadhan yang akan datang.   Saudara-saudara yang berbahagia, Banyak sekali hikmah, pelajaran dan makna yang dapat kita petik dari mewabahnya Covid-19. Di antaranya, kita diingatkan untuk selalu bersabar dan bersyukur dalam situasi apa pun dan dalam kondisi bagaimana pun. Sabar dan syukur adalah dua senjata bagi seorang mukmin dalam mengarungi kehidupan di dunia. Jika kita tidak menghiasi diri kita dengan sifat sabar dan syukur dalam situasi seperti ini, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kerisauan, kepenatan, kesusahan, dan kesedihan. Sebaliknya, jika kita tanamkan sabar dan syukur dalam hati kita, maka kita akan meraih ridha Allah dan pahala yang besar di kehidupan akhirat.   Mewabahnya virus ini juga mengingatkan bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Hanya dengan makhluk yang sangat kecil itu, banyak orang menjadi tak berdaya. Banyak orang jatuh sakit. Bahkan banyak orang meninggal dunia. Hal ini seakan mengikis habis kesombongan pada diri manusia. Manusia itu makhluk lemah yang memiliki banyak keterbatasan. Tidak selayaknya ia menyombongkan dan membanggakan dirinya.   Menyebarnya virus ini juga mengingatkan kita akan kematian. Manusia pasti akan mati. Manusia tidak selamanya hidup di dunia ini. Semuanya pasti akan berakhir dengan kematian. Tidak seorang pun dapat memajukan kematian atau memundurkannya barang sesaat pun. Kematian adalah pintu yang akan dimasuki oleh setiap insan. Ajal tidak akan meminta izin kepada orang muda yang sehat. Maut juga tidak akan permisi kepada orang tua yang sakit-sakitan. Maut akan menjemput seseorang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Virus ini adalah satu di antara sekian sebab kematian manusia.   Menjalarnya virus ini juga mengingatkan kepada kita akan arti penting dari ilmu agama. Tanpa ilmu agama, kita tidak akan mampu menggali hikmah dari suatu kejadian. Tanpa ilmu agama, kita tidak akan dapat bersabar dan bersyukur sebagaimana mestinya. Tanpa ilmu agama, kita tidak akan mampu menyikapi musibah sesuai tuntunan syariat Islam.   Hadirin yang berbahagia, Kita bersyukur kepada Allah karena telah dianugerahi kekuatan untuk menuntaskan ibadah puasa dan berbagai ibadah lainnya selama bulan Ramadhan. Setiap kali selesai menuntaskan suatu ibadah, seorang mukmin yang baik akan berharap-harap cemas. Berharap ibadahnya diterima oleh Allah. Dan cemas, jangan-jangan ibadah yang telah dilakukan tidak diterima oleh-Nya. Harapan itu akan memotivasinya untuk terus melakukan ibadah sehingga ia bisa menghimpun bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhirat. Sedangkan kecemasan dan kekhawatiran itu akan mendorongnya untuk terus beribadah, karena ia tidak tahu ibadah mana yang diterima oleh Allah ta’ala, apakah ibadah yang telah dikerjakan ataukah ibadah yang akan dilakukan.   Saudara-saudara yang berbahagia, Setelah hak-hak Allah kita tunaikan selama Ramadhan melalui ibadah-ibadah yang kita lakukan, tibalah kini waktu untuk memenuhi hak-hak sesama hamba. Hari raya adalah salah satu momen yang tepat untuk mempererat tali silaturahim dan memperkuat hubungan persaudaraan sesama muslim dan sesama anak bangsa.   Musim pandemi janganlah menghalangi kita untuk bersilaturahim. Karena silaturahim bisa dilakukan dengan berbagai cara. Jika tidak memungkinkan dengan bertemu fisik, maka bisa diganti dengan pertemuan secara daring. Silaturahim juga dapat dilakukan dengan saling bertegur sapa dan menanyakan kabar melalui sambungan telepon. Di musim pandemi covid-19 ini, kita memang dianjurkan untuk menjaga jarak fisik. Akan tetapi jarak sosial tidak boleh renggang. Jarak persaudaraan harus tetap dekat. Jembatan penghubung antar kerabat harus tetap dibentangkan.   Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Dalam Shahih Ibn Hibbban dari hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Wahai Rasulullah, beritahulah aku tentang sesuatu yang jika aku kerjakan, maka aku akan masuk surga. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:   أَطْعِمِ الطَّعَامَ وَأَفْشِ السَّلامَ وَصِلِ الأَرْحَامَ وقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلِ الْـجَنَّةَ بِسَلاَمٍ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ)   Maknanya: “Berikanlah makanan, sebarkanlah salam, sambunglah tali silaturahim dan lakukan shalat malam ketika orang-orang tidur, maka engkau akan masuk surga dengan selamat” (HR. Ibnu Hibban)   Hadirin yang berbahagia, Musim pandemi jangan sampai membuat kita memutus tali silaturahim. Jangan sampai keluarga dan kerabat kita, merasa kita tinggalkan dan kita abaikan. Walaupun di masa pandemi, kita tetap jaga hubungan baik dengan mereka. Kita jaga hubungan baik itu dengan cara membantu mereka di kala mereka butuh bantuan. Kita beri utang mereka jika butuh utangan. Kita kunjungi mereka jika memungkinkan. Jangan tunggu mereka berbuat baik kepada kita lalu kita balas kebaikan mereka. Jangan tunggu mereka mengunjungi kita lalu kita balas kunjungan mereka. Jangan tunggu mereka menyapa duluan lewat sambungan telepon baru kemudian kita balas menyapa. Kita dahului mereka dengan itu semua. Karena ini adalah kebaikan yang pahalanya besar. Jadilah orang yang pertama kali melakukannya. Kita berlomba-lomba dalam kebaikan.   Menyambung silaturahim adalah salah satu kewajiban dan memutus silaturahim termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:   لَا يَدْخُلُ الْـجَنَّةَ قَاطِعٌ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)   Maknanya: “Tidak akan masuk surga (bersama orang-orang yang lebih awal masuk surga) orang yang memutus silaturahim (HR. Al-Bukhari dan Muslim)   Hadirin yang berbahagia, Termasuk silaturahim adalah membantu kerabat kita ketika mereka dalam kondisi membutuhkan, terutama dalam situasi pandemi seperti saat ini. Dalam hadits disebutkan:   مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إِلا كَسَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ مِنْ حُلَلِ الكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه)   Maknanya: “Tidaklah seorang mukmin menghibur saudaranya karena musibah yang menimpanya, kecuali Allah akan mengenakan kepadanya pakaian-pakaian kemuliaan di hari kiamat” (HR Ibnu Majah)   Janganlah kita menganggap silaturahim sebagai beban. Jangan pula berpikir bahwa silaturahim hanya akan menambah kesusahan yang sedang kita rasakan. Bahkan sebaliknya, hadirin sekalian, dengan sebab silaturahim itu Allah akan angkat kesusahan dari kita dan melapangkan rezeki kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:   مَنْ سَرَّهُ أنْ يَمُدَّ اللهُ في عُمُرِه وَيُوَسِّعَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ وَيَدْفَعَ عَنْهُ مِيْتَةَ السُّوْءِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (رَوَاهُ الْحَاكِمُ فِي الْمُسْتَدْرَكِ)   Maknanya: “Barangsiapa menginginkan dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan diselamatkan dari kematian yang buruk oleh Allah, maka hendaklah ia sambung tali silaturahim dengan kerabatnya” (HR Al-Hakim dalam al-Mustadrak)   Hadirin yang berbahagia, Kepada selain kerabat dan keluarga juga kita lakukan hal yang sama. Kita jadikan hari raya sebagai mementum untuk mempererat hubungan kita dengan tetangga, teman, kolega, dan seluruh lapisan masyarakat. Saling bermaaf-maafan harus menghiasi hari raya kita. Yang lalu biarlah berlalu. Kita maafkan kesalahan orang lain kepada kita. Kita adalah saudara-saudara sesama Islam. Kita adalah bersaudara sesama anak bangsa. Di akhirat kelak, janganlah kita termasuk mereka yang membawa pahala shalat, puasa, dan berbagai ibadah yang lain, sekaligus juga membawa dosa yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia. Yaitu mereka yang berbuat zalim kepada orang lain dan belum sempat meminta maaf atau kerelaan darinya sampai ajal tiba. Merekalah orang yang bangkrut sebangkrut-bangkrutnya di akhirat kelak. Pahala mereka akan diambil dan diberikan kepada orang-orang yang mereka zalimi. Jika tidak cukup, maka dosa-dosa orang yang mereka zhalimi akan diambil dan ditimpakan kepada mereka lalu mereka dilemparkan ke api neraka. Na’udzu billahi min dzalik.   Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.   


  • x

Kamis, 21 Mei 2020

Inone lan sirnone dunyo

Poro sederek, jamaah Pengajian Rahimakumullah

Monggo sareng-sareng kito tingkataken anggen kito taqwa dumateng Gusti Allah, inggih puniko kanti toat, patuh nglampahi perintah-perintahipun lan nebihi sedoyo awisanipun Gusti Allah.

Monggo kito sami emut bilih gesang wonten dunyo puniko namung sekedap, gesang ingkang boten langgeng lan cepet sirno. Sedoyo perkawis wonten dunyo puniko cepet sanget berubahipun. Ingkang asale enem cepet dados sepuh, ingkan asale sehat dados gerah, ingkang asale sugih dados miskin, ingkang asale pinter dados supe, ingkang asale gagah cepet berubah, ingkang asale gadahi jabatan cepet dipun gantos tiyang sanes, ingkang asale kiat cepet sayah, ingkang asale seger cepet layu, lan ingkang asale gesang cepet sedo.

Geh mekaten tiyang gesang wonten dunyo, boten saged langgeng lan boten saged dipun dadosaken cecekelan. Pramilo saking meniko, monggo kito ngatos-ngatos, kito ginaaken gesang meniko kanti sahe, kangge nambah kebecikan, kangge sangu benjang gesang wonten akherat.

Allah dawuh wonten Alquran:

اعْلَمُوْا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ (الحديد: 20)

Ingkang artosipun kirang langkung: Ngertio siro kabeh saktemene urip ono dunyo iku mung dolanan, geguyon, pepahes, unggul-unggulan antarane siro kabeh, akeh-akehan bondo lan keturunan.

Wonten ayat meniko Gusti Allah nerangaken bilih gesang wonten dunyo puniko isinipun gangsal (5) perkawis: Setunggal, gesang wonten dunyo puniko isinipun dolanan, sami ugi dolanan bondo, pangkat, kapinteran lan sak panunggalanipun.

Ingkang ongko kalih, gesang wonten dunyo puniko isinipun geguyonan, inggih puniko perkawis-perkawis ingkang nglaleake saking ibadah, nglaleake kewajiban-kewajiban agami ingkang kedah dipun lampahi.

Ingkang ongko tigo, isinipun dunyo puniko namung pepahes. Kathah tiyang ingkang pengin bagus awake, bagus sandangane, bagus griyone, bagus kendaraane lan sak panunggalanipun.

Ingkang ongko sekawan isinipun dunyo puniko namung unggul-unggulan, pengin terkenal, pengin dihurmati lan sak panunggalanipun.

Ingkang terakhir, gesang wonten dunyo puniko isinipun akeh-akehan bondo lan keturunan; berlomba-lomba pados bondo lan gadahi keluargi ingkang ageng ingkang gadahi pengaruh wonten masyarakat.

Poro sederek ingkang minulyo,

Allah nerangaken perkawis meniko minongko pepenget supados kito emut lan waspodo, ampun ngantos sibuk kalihan kesenengan dunyo sahinggo supe marang akherate. Allah ugi ngemutaken bilih kadunyan puniko namung kesenengan ingkang menipu amargi boten langgeng lan boten saged dadosaken tentremipun manah. Allah ngendiko:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُور

Lan ora ono urip ono dunyo iku kejobo kesenengan kang menipu.

Jamaah Pengajian, kangge ngadepi gesang wonten dunyo ingkang mekaten, Kanjeng Nabi sampun caos pitedah, inggih meniko dawuhipun:

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيل (رواه البخارى)

Onoho siro ing dunyo iku koyo wong asing utowo wong kang lelungan.

Tegesipun dunyo meniko ampun dipun dadosaken tujuan, ampun ngantos nganggep bilih gesang puniko namung wonten dunyo, ibarat tiyang ingkang lelungan, dunyo meniko namung panggenan kangge mampir, boten tujuanipun lelungan.

Poro sederek sedoyo, estunipun dunyo puniko boten saged dadosaken tentremipun manah, arang tiyang ingkang saged tentrem gesangipun amargi gadahi dunyo ingkang kathah, justru bondo kathah meniko malah dadosaken rupeking jiwo lan boten tentremipun manah.

Gesang ingkang selamet, tentrem, sami ugi wonten dunyo punopo akherat puniko namung saged dipun hasilaken saking iman ingkang leres, toat maring aturan agami lan kerso nglampahi amal kesahenan.


Kamis, 14 Mei 2020

Kewajiban nglampahi amanat

Poro sederek, jamaah Pengajian rahimakumullah..

Monggo sareng-sareng kito tingkataken angen kito taqwa dumateng Gusti Allah, kanti toat nglampahi perintah-perintahipun lan nebihi sedoyo awisanipun Allah.

Salah setunggaling bentuk taqwa kito marang Gusti Allah inggih puniko numindaki amanah, jogo amanah lan nglampahi tugas utawi kewajiban ingkang sampun dipun amanataken marang kito. Ampun ngantos kito ajrih utawi khawatir kalihan rizkinipun gusti Allah sahinggo kito nyia-nyiaaken amanah. Rizki puniko sampun dipun bagi dening Gusti Allah lan sampun wonten ukuranipun piyambak-piyambak. Allah ngendiko wonten Alquran:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ، وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ، إِنَّ اللهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (الطلاق: 2-3)

Artosipun kirang langkung: Sing sopo wonge taqwa marang Allah mongko Allah bakal dadeake dalan kanggo deweke lan bakal awih rizki saking dalan kang ura disongko-songko; sing sopo wonge tawakkal maring Allah, mongko Allah kang arep nyukupi awak deweke; saktemene Allah iku nekaake taqdire lan yekti Allah iku wis dadeake saben-saben perkoro ono ukurane dewe-dewe.

Jamaah Pengajian ingkang minulyo

Amanah puniko artosipun perkawis ingkang sampun dados tugas, kewajiban utawi tanggung jawab kito. Amanah kedah kito jadi lan kito lampahi kanti sahe keranten benjang wonten akherat, amanah puniko bade dipun tangletaken dening Gusti Allah.

Amanah saged awujud perkawis ingkang mawerni-werni: Iman lan islam puniko termasuk amanah ingkang wajib kito jagi; kewajiban-kewajiban agami, kadoso solat, poso lan zakat, ugi termasuk amanah ingkang kedah kita lampahi. Garwo, anak lan kluargi ugi termasuk amanah ingkang kedah bimbing lan kito didik maring perkawis ingkang sahe. Janji, mufakat, keputusan lan akad-akadan ugi termasuk termasuk amanah ingkang kedah kito jagi lan kito lampahi, ampun ngantos khianat utawi cidro maring janji ingkang sampun dipun ucapaken.

Aturan-aturan ingkang sampun dipun tetapaken puniko ugi termasuk amanah ingkang wajib kito taati; sami ugi aturan agami, aturan pemerintah, aturan adat, organisasi lan lintu-lintunipun. Sedoyo aturan puniko ampun ngantos kito langgar.

Tugas, wewenang, tanggung jawab lan jabatan ugi termasuk amanah. Sedoyo pendamelan ingkang sampun dados tugas utawi tanggung jawab kedah kito lampahi kanti sahe, ampun ngantos males utawi sak penake dewe. Keranten sedanten puniko wonten pertanggung jawabipun, sami ugi wonten dunyo punopo akherat.

Poro rawuh,

Tiyang gesang puniko mesti gadahi amanah utawi tanggung jawab, minimal kalihan awakipun piyambak. Awak, pikiran lan manah kito sedoyo puniko minongko nikmat saking Gusti Allah sekaligus titipan ingkang kedah dipun jagi, ampun ngantos dipun arahaken marang kemaksiatan. Allah sampun ngendiko wonten Alquran:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا (الإسراء : 36)

Saktemene pengrungon, peningal lan ati, iku kabeh ono pertanggung-jawabane..

Kanjeng Nabi ugi sampun ngendiko:

كُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ (متفق عليه)

Siro kabeh iku pemimpin lan bakal dijaluki pertanggung-jawabane..

Poro rawuh sedoyo,

Termasuk perkawis ingkang kedah dipun perhatosaken inggih puniko ngati-ngati naliko bade milih sinten ingkang dipun pasrahi jalanake amanah. Sebab naliko amanah meniko dipun pasrahake marang tiyang ingkang boten cocok, mongko bakal dadeake kerusakan. Kanjeng Nabi ngendiko:

« إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةْ » . قَالَ : كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : « إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ ، فَانْتَظِرِ السَّاعَةْ »

Naliko amanah wes di sia-siaake mongko entenono kerusakane. Wonten setunggal tiyang ingkang nyuwun pirso: “Kados menopo kesia-siane amanah puniko Ya Rasul?” Nabi ngendiko: “Naliko urusan dipasrahake maring wong kang dudu ahline, mongko entenono kerusakane”...


Kamis, 07 Mei 2020

Istigfar lan Azab

Poro sederek, jamaah Pengajian Rahimakullah..

Monggo sareng-sareng kito tingkataken taqwa kito dumateng Gusti Allah, inggih puniko kanti nglampahi perintah-perintahipun lan nebihi sedoyo awisanipun. Kanti taqwa puniko, InsyAllah kito termasuk tiyang-tiyang ingkang mulyo.

Jamaah Pengajian ingkang minulyo..

Wekdal-wekdal puniko, kito ningali lan ngraosaken kejadian-kejadian ingkang menyedihkan, kathah musibah ingkang ngenani negari kito. Musibah-musibah meniko arupi bencana alam ingkang mawerni-werni, wonten ingkan arupi banjir, gempa bumi, tanah longsor, gunung mletus lan sak panunggalanipun.

Kito sebagai tiyang ingkang beriman mesti yakin bilih musibah-musibah meniko pancen saking kersanipun pengeran. Musibah puniko boten namung gejala alam, ananging sampun dipun taqdiraken lan dipun kersaaken dening gusti Allah. Allah sampun ngendiko wonten Alquran:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمْ :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ ، وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ، وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (التغابن: 11)

Ingkang artosipun kirang langkung: Ora ngenani suwijining musibah kejobo kelawan ijine Allah, lan kang sopo wonge iman marang Allah mongko Allah bakal paring pituduh ing atine lan Allah iku moho ngerteni kabeh perkoro.  

Jamaah Pengajian ingkang minulyo..

Musibah ingkang ngenani manungso puniko saged dipun bagi werni kalih (2): Setunggal, musibah ingkang minongko ujian utawi cobaan tumrap tiyang mukmin. Tiyang gesang puniko boten lepas saking ujian lan cobaan, sami ugi cobo ingkang ngenani awak, bondo, pikiran, kesehatan lan sak panunggalanipun. Tumrape tiyang mukmin, cobaan puniko kedah dipun lampahi kanti sabar, tabah, lan ampun ngantos gadahi prasongko olo marang gusti Allah.

Kito tiyang mukmin mesti mangertosi bilih cobaan puniko kathah manfaatipun, ing antawisipun inggih puniko: saged nambahi kesahenan, saged nglebur doso lan saged dados peringatan supados kito sadar lan kerso tobat marang gusti Allah.

Poro sederek ingkang minulyo..

Dene werni musibah ingkang ongko kalih inggih meniko musibah ingkang minongko ukuman utawi azab saking Gusti Allah. Musibah ingkang arupi azab puniko dipun timpaake dening gusti Allah keranten manungso sampun kathah anggenipun maksiat, kathah nglampahi doso lan boten purun nderek pituduhipun poro rasul.

Allah sampun nerangaken wonten Alquran inggih puniko kisahipun poro umat sakderengipun kanjeng Nabi. Umat-umat puniko sami mbangkang, boten purun miderek dawuh nabinipun, akhiripun dipun ukum lan dipun binasaaken dening gusti Allah. Wonten ingkang dipun ukum kanti udan watu, petir ingkang ngglegar, gempa bumi, badai lan wonten ugi ingkang dipun keremaken kelawan banjir bandang. Kisah-kisah meniko saged dipun waos wonten Alquran Surat al-Ankabut.

Poro sederek ingkang kinurmatan..

Kito boten mangertos, musibah ingkang ngenani negari kito meniko minongko cobo punopo azab saking gusti Allah. Ananging kangge ngatos-atos monggo kito sami eling lan nglereni maksiat ingkang tasih dipun lampahi. Monggo kito tansah nyuwun ngapuro lan tobat marang gusti Allah supados bencana-bencana puniko saged leren. Monggo kito sami istigfar marang gusti Allah kanti tulus lan ihlas tur yakin bilih Allah puniko Dzat ingkang welas asih kalihan kawulanipun soho remen ngapuro doso-dosonipun manungso. Allah sampun ngendikaaken bilih senajan bencana puniko dipun sebabaken tumindak kito piyambak, ananging gusti Allah meniko moho paring pangapuro:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْ عَنْ كَثِيْر (الشورى: 30)  

Artosipun kirang langkung: Musibah ingkang ngenani siro kabeh iku mergo tumindake siro kabeh lan Allah puniko moho pangapuro..

Allah ugi sampun ngendiko bilih Allah boten bade nyikso marang setunggaling kaum ingkang sami maos istigfar:

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ ، وَمَا كَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْن (الأنفال: 33)

Artosipun kirang langkung: Allah ura arep nyikso maring kaum yen siro Muhammad ono ing kaum iku mou, lan Allah ura arep nyikso maring kaum yen kaum iku mou podo istigfar.

Dados umpami kito ngathah-ngathahaken istigfar, InsyAllah kito boten bade dipun sikso dening pengeran. Kanjeng Nabi ugi sampun ngendiko:

اَلْعَبْدُ آمِنٌ مِنْ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا اسْتَغْفَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلّ (حديث حسن رواه أحمد)

Kawulo puniko aman saking azab Allah selagine deweke nyuwun ngapuro/istigfar marang Allah.


 MALAIKAT BERKELILING  MENCARI ORANG YANG DZIKIR  Mugi tansah sehat, lancar, berkah, panjang yuswo njih. Aamiin  Diriwayatkan dari Abu Hurai...