Rabu, 14 Agustus 2024

 Pelacur & Anjing SERTA Kyai & Burung


 MUGI SEHAT PANJANG USIA BERKAH NJIH 


Dalam: Buku Dalam Pelita Hati 


Alkisah


1) eorang pelacur tua, mungkin tinggal seonggok daging dan penuh dengan kuman penyakit kotor, tertatih-tatih menempuh perjalanan di padang pasir. Perbekalan tinggal air sekendi belaka, padahal perjalanan masih jauh. Tiba-tiba dilihatnya seekor anjing tergeletak begitu saja di tempat sepanas itu. Tiada harapan lagi untuk hidup, karena sudah tidak kuasa berjalan lagi. Tinggal menunggu saat kematian. Tak sampai hatinya melihat penderitaan anjing itu, pelacur tersebut lalu meminumkan airnya yang tinggal sedikit itu ke mulut makhluk sial dangkalan itu. Makhluk hina itu lalu mampu meneruskan perjalanan, dan menyelamatkan diri dari kematian.


Menurut cerita itu, sang pelacur akhirnya mati kehausan, sang anjing selamat sampai di kota dan berhasil memelihara kelangsungan hidupnya. Tetapi, kematian pelacur itu berujung pada kebahagiaan abadi, karena ia langsung masuk sorga abadi, sorga tertinggi. Karena keibaannya yang tiada terhingga kepada makhluk lain, hingga melupakan keselamatan diri sendiri, ia memberikan darma bakti tertinggi kepada kemanusiaan. Ini yang disebut kebahagiaan tanpa batas, dan dengan itu ia bermodal cukup untuk masuk sorga. Walaupun sebelum itu, ia sudah begitu rupa bergelimang dengan dosa.


2) Lain lagi kisahnya sang kiai


Sewaktu akan bepergian ke kota lain, kiai bujangan yang berdiam seorang diri di rumahnya, samar-samar ingat akan kebutuhan burung peliharaannya kepada air minum. Rasa malasnya timbul. Ah, biarkan saja, tidak apa-apa, binatang kan tahan haus. Itu pun hanya sehari. Ternyata kiai yang saleh dan berpengetahuan agama sangat mendalam itu terhambat perjalanannya, kembali ke rumah beberapa hari kemudian. Didapatinya burung tersebut sudah mati. Karena burung toh bukan makhluk berharga mahal, ia pun segera melupakan akan hal itu. Biasanya saja, ada makhluk lahir dan ada makhluk mati, soal kehausan hanyalah sebab belaka.


Bagaimana nasib kiai tersebut di akhirat kelak? Menurut cerita sufi itu, ia masuk neraka wail, neraka terdalam. Pasalnya? Karena ia menganggap sepele keselamatan makhluk yang ada di dunia ini. Setiap makhluk, dari yang sebesar- besarnya hingga yang sekecil-kecilnya sekalipun, memiliki nilainya sendiri. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi siklus kehidupan secara umum. Bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi. Dengan kata sederhana, sikap pak kiai saleh dan berilmu agama mendalam itu adalah sikap meremehkan pentingnya arti kehidupan secara keseluruhan. Sikap tidak menghargai keagungan dan kehebatan kreasi Allah yang sangat menakjubkan itu. Sikap meremehkan kehendak Allah akan perlunya kehidupan dilestarikan sebagai tanda pengakuan akan keagungan dan kebesarannya sendiri.


Dua dimensi dari cinta dan kasih sayang sesama makhluk, seperti dipaparkan cerita sederhana di atas, menunjukkan dengan jelas, bahwa keberagamaan secara formal semata-mata belum menjamin adanya rasa keberagamaan dalam arti sesungguhnya. Masih jauh nian, jarak antara formalitas kehidupan beragama dan kedalaman kehidupan beragama itu sendiri. Masih sangat lebar jurang antara religi dan religiusitas, antara hidup beragama dan rasa keberagamaan.


Tuntutan bagi kita sudah tentu adalah bagaimana menjembatani antara keduanya. Semata-mata mengandalkan religi atau formalitas keagamaan belaka, kita tidak akan mencapai religiusitas, atau rasa keberagamaan, yang cukup mendalam untuk menyelamatkan diri dari godaan melupakan kebesaran Allah dan keagungan-Nya. Ternyata tidak mudah menjadi seorang beragama yang benar-benar dapat dinamakan beragama njih

Sabtu, 10 Agustus 2024

 Kisah  Pengemis  Menolak Sedekah

( Abul Qasim al Junaid wafat 910 M di Baghdad.)


SEMOGA SELALU SEHAT BERKAH SEMUA KELUARGA NJIH

 

Dalam kisah masa kecil Abul Qasim al Junaid ibnu Muhammad al Khazzazal Nihawandi  oleh Fariduddin Aththar: 


Suatu hari, Junaid pulang dari ngaji. Ia menemukan ayahnya tengah menangis tersedu di atas sajadahnya.


“Ayah, apa yang terjadi?” tanya Junaid khawatir.


“Ayah ingin memberikan sedekah kepada pamanmu, Sarri,” tutur sang ayah. “Namun ia tidak mau menerimanya. Ayah menangis karena ayah telah mencurahkan seluruh hidup ayah untuk dapat menyisihkan uang lima dirham ini, tapi ternyata uang ini tidak memenuhi syarat untuk dapat diterima oleh seorang Sahabat Allah.”


Junaid yang masih berusia sepuluh tahun itu diam sejenak untuk berpikir, mencari solusi bagi ayahnya yang sedang sedih.


“Ayah…,” tak lama kemudian ia angkat bicara. “Bagaimana kalau uang itu aku yang memberikan? Siapa tau Paman Sarri akan luluh dan mau menerimanya,” rayu Junaid.


Sang ayah yang melihat umur Junaid belum cukup dewasa pun hanya menatap wajahnya sebentar, lalu berkata, “Anakku, kau masih kecil. Ayah saja ditolak, bagaimana denganmu yang belum mengerti asam garam kehidupan.” Jawabnya.


“Ayah, izinkanlah saya mencobanya.” Ucap Junaid tak kehilangan akal.


Akhirnya, sang ayah pun luluh dan memberikan uang itu kepadanya. Junaid pun pergi. Dan, sesampainya di rumah sang paman, Junaid segera mengetuk pintu.


“Siapa itu?” Terdengar suaru dari dalam rumah.


“Junaid, Paman.” Jawabnya. “Mohon buka pintu sebentar, dan terimalah tawaran sedekah ini.”


“Aku tidak akan menerimanya,” pekik Sarri.


“Aku mohon terimalah ini, Demi Tuhan yang telah begitu dermawan padamu dan telah begitu adil pada ayahku,” jawab Junaid.


“Junaid, apa maksudmu Allah begitu dermawan padaku dan begitu adil pada ayahmu?” tanya Sarri.


Junaid menjawab, “Allah begitu dermawan padamu karena Dia telah menganugerahimu kemiskinan. Sedangkan pada ayahku, Allah telah begitu adil dengan menyibukkannya dengan urusan-urusan dunia. Engkau memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak sedekah. Sedangkan ayahku, suka atau tidak, harus menyampaikan sedekah—yang dititipkan Allah padanya—kepada orang-orang yang berhak seperti paman.”


Jawaban Junaid ini membuat hati Sarri terenyuh. “Anakku, sebelum aku menerima sedekah ini, aku telah lebih dulu menerimamu,” ujar Sarri.


Sarri pun kemudian membuka pintu dan menerima sedekah itu. Ia menempatkan Junaid di tempat yang istimewa di dalam hatinya.


Begitulah saat Allah menitipkan nasihat-Nya melalui siapa dan apa pun yang ia kehendaki, termasuk pada mulut seorang anak kecil–yang kerap dinilai orang-orang dewasa tidak memiliki makna.


Begitu pun dengan kemiskinan dan kekayaan. Kadang, miskin dan kaya kerap dinilai sebagai ukuran kemuliaan seseorang. Namun di sisi orang-orang bertakwa, kemiskinan dan kekayaan hanya lah titipan. Keduanya merupakan bentuk kasih sayang Tuhan—yang masing-masingnya memiliki hak sekaligus kewajiban.


Si miskin memiliki hak untuk menolak sedekah, sedangkan si kaya punya kewajiban untuk menyampaikan sebagian hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan.


Namun, bagaimana jadinya, bila orang-orang yang disebutkan Alquran sebagai syarat penerima sedekah (fakir, miskin, dsb) memilih untuk menolak pemberian sedekah? Bukankah si kaya akan kehilangan kesempatan untuk membantu? Pun sebaliknya

Rabu, 07 Agustus 2024

 Abu Bakr Al Farghani, ahli ibadah dan tidak memiliki harta benda apapun


SEHAT BERKAH SELALU SEDOYO KELUARGI NJIH


Dalam Kitab Hilyat Al-Auliya’ Fi Thabaqat Al-Ashfiya’. 


Kisah yang paling terkenal tentang beliau adalah menahan rasa lapar sampai berpuluh-puluh hari lamanya. Sebetulnya Al Farghani memang bukan orang berada, namun ia menampilkan diri sebagai saudagar kaya, berpakaian rangkap berwarna putih, dilengkapi sorban dan sandal yang bersih, serta kunci yang menawan.


Entah apa alasan ia melakukan hal itu. Karena tidak memiliki tempat tinggal, setiap malam ia hanya tidur dari masjid ke masjid. Namun masyarakat hanya mengetahui kalau Al Farghani adalah seorang saudagar kaya, tentu karena penampilannya. Tidak banyak orang yang tahu siapa sebenarnya Al Farghani, hanya beberapa beberapa kalangan yang tahu keadaannya.


Pada suatu waktu ia pergi ke Mesir untuk sebuah keperluan. Ia tetap memakai pakaian menawan ala saudagarnya. Tentu saja ahli ibadah lain mengetahui bahwa ia adalah seorang ahli ibadah juga. Mereka pun berkumpul dan mendengarkan ceramah Al Farghani. Sampai suatu hari, ia pergi ke sebuah tempat yang jauh dan diikuti oleh ahli ibadah lain. Ternyata banyak ahli ibadah yang berhenti ditengah jalan karena tidak kuat lagi, akhirnya hanya sedikit yang dapat meneruskan.



Saat itu pula Al Farghani bertanya kepada pengikutnya, “Apakah kalian merasa kelaparan ?”. Sontak pengikutnya mengiyakan bahwa merasa kelaparan dan kehausan. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah desa. Ternyata di desa tersebut ada biara para rahib. Melihat rombongan yang kelelahan, sontak seorang rahib menyuruh rahib lain untuk memberi makan, “Tolong beri makanan dan minuman kepada rahib Muslim ini, sungguh terdapat dari mereka yang tidak sabar menahan rasa lapar”. Mendengar ucapan itu, Al Farghani merasa tersinggung dan berkata “Wahai rahib, apa engkau mengetahui ilmu tentang bersabar dalam kelaparan?”. Rahib itu pun menjawab “Tidak, bagaimana itu?”. Al Farghani pun menjawab dengan tegas “Wahai rahib, turunlah dari biara. Silahkan makan dan minum sepuasnya, lalu ikutlah denganku untuk masuk ruangan yang dikunci. Tidak diperbolehkan membawa apa-apa, kecuali air untuk bersuci” tangkasnya.


“Barangsiapa yang tidak kuat dengan ini, maka ia bias memberi tanda untuk keluar ruangan dan mengikuti ajaran di antara kita yang masih sehat. Bahkan aku sudah tiga hari tidak merasakan aroma makanan” lanjut Al Farghani. Akhirnya ia dan seorang rahib masuk ke dalam ruangan yang terkunci rapat. Para ahli ibadah pengikut Al Farghani dan rahib-rahib lain hanya mengamati. Bahkan sampai 40 hari mereka tidak melihat perubahan sedikitpun.


Sampai pada hari ke 41 terdengar suara pintu ruangan yang diketuk. Setelah dibuka, ternyata rahib tersebut meminta pertolongan, sedangkan Al Farghani tetap sehat dan hanya melihat hal itu. Orang-orang disekitar pun segera memberi minum kepada rahib yang meminta tolong. Setelah itu, rahib tersebut menghadap Al Farghani dan mengucap syahadat “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.


Hingga akhirnya Al Farghani memberi sebuah ceramah dan nasihat kepada para rahib di biara itu. Tanpa disangka mereka semua mengikrarkan diri dan secara sah masuk Islam dengan mengucap syahadat. Kemudian perjalanan pun dilanjutkan oleh Al Farghani ke Baghdad. Kali ini ia diikuti oleh para ahli ibadah dan rahib-rahib yang telah masuk Islam

 Abu Bakr Al Farghani, ahli ibadah dan tidak memiliki harta benda apapun


SEHAT BERKAH SELALU SEDOYO KELUARGI NJIH


Dalam Kitab Hilyat Al-Auliya’ Fi Thabaqat Al-Ashfiya’. 


Kisah yang paling terkenal tentang beliau adalah menahan rasa lapar sampai berpuluh-puluh hari lamanya. Sebetulnya Al Farghani memang bukan orang berada, namun ia menampilkan diri sebagai saudagar kaya, berpakaian rangkap berwarna putih, dilengkapi sorban dan sandal yang bersih, serta kunci yang menawan.


Entah apa alasan ia melakukan hal itu. Karena tidak memiliki tempat tinggal, setiap malam ia hanya tidur dari masjid ke masjid. Namun masyarakat hanya mengetahui kalau Al Farghani adalah seorang saudagar kaya, tentu karena penampilannya. Tidak banyak orang yang tahu siapa sebenarnya Al Farghani, hanya beberapa beberapa kalangan yang tahu keadaannya.


Pada suatu waktu ia pergi ke Mesir untuk sebuah keperluan. Ia tetap memakai pakaian menawan ala saudagarnya. Tentu saja ahli ibadah lain mengetahui bahwa ia adalah seorang ahli ibadah juga. Mereka pun berkumpul dan mendengarkan ceramah Al Farghani. Sampai suatu hari, ia pergi ke sebuah tempat yang jauh dan diikuti oleh ahli ibadah lain. Ternyata banyak ahli ibadah yang berhenti ditengah jalan karena tidak kuat lagi, akhirnya hanya sedikit yang dapat meneruskan.



Saat itu pula Al Farghani bertanya kepada pengikutnya, “Apakah kalian merasa kelaparan ?”. Sontak pengikutnya mengiyakan bahwa merasa kelaparan dan kehausan. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah desa. Ternyata di desa tersebut ada biara para rahib. Melihat rombongan yang kelelahan, sontak seorang rahib menyuruh rahib lain untuk memberi makan, “Tolong beri makanan dan minuman kepada rahib Muslim ini, sungguh terdapat dari mereka yang tidak sabar menahan rasa lapar”. Mendengar ucapan itu, Al Farghani merasa tersinggung dan berkata “Wahai rahib, apa engkau mengetahui ilmu tentang bersabar dalam kelaparan?”. Rahib itu pun menjawab “Tidak, bagaimana itu?”. Al Farghani pun menjawab dengan tegas “Wahai rahib, turunlah dari biara. Silahkan makan dan minum sepuasnya, lalu ikutlah denganku untuk masuk ruangan yang dikunci. Tidak diperbolehkan membawa apa-apa, kecuali air untuk bersuci” tangkasnya.


“Barangsiapa yang tidak kuat dengan ini, maka ia bias memberi tanda untuk keluar ruangan dan mengikuti ajaran di antara kita yang masih sehat. Bahkan aku sudah tiga hari tidak merasakan aroma makanan” lanjut Al Farghani. Akhirnya ia dan seorang rahib masuk ke dalam ruangan yang terkunci rapat. Para ahli ibadah pengikut Al Farghani dan rahib-rahib lain hanya mengamati. Bahkan sampai 40 hari mereka tidak melihat perubahan sedikitpun.


Sampai pada hari ke 41 terdengar suara pintu ruangan yang diketuk. Setelah dibuka, ternyata rahib tersebut meminta pertolongan, sedangkan Al Farghani tetap sehat dan hanya melihat hal itu. Orang-orang disekitar pun segera memberi minum kepada rahib yang meminta tolong. Setelah itu, rahib tersebut menghadap Al Farghani dan mengucap syahadat “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.


Hingga akhirnya Al Farghani memberi sebuah ceramah dan nasihat kepada para rahib di biara itu. Tanpa disangka mereka semua mengikrarkan diri dan secara sah masuk Islam dengan mengucap syahadat. Kemudian perjalanan pun dilanjutkan oleh Al Farghani ke Baghdad. Kali ini ia diikuti oleh para ahli ibadah dan rahib-rahib yang telah masuk Islam

Senin, 05 Agustus 2024

 3 IKAN PINTER, TENGAH DAN BODOH


[  ] Sehat badan, panjang usia dan berkah selalu njih dulur kita


Dinukil dari Idris Shah, Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi


Di sebuah kolam hiduplah tiga ekor ikan!

_ Si Pandai, 

_ Si Agak-Pandai, 

_ Si Bodoh. 

Mereka hidup biasa-biasa saja sebagaimana ikan-ikan yang hidup di tempat lain, sampai suatu hari datanglah --seorang manusia.


Manusia itu membawa jala, dan Si Pandai melihatnya dari dalam air. Mengingat kembali pengalamannya, cerita-cerita yang pernah didengarnya, dan kecerdikannya, 


1) Si Pandai memutuskan untuk bertindak


"Hampir tak ada tempat untuk bersembunyi di kolam ini," pikirnya. "Aku sebaiknya pura-pura mati."


Si Pandai rnengerahkan seluruh tenaganya dan melompat keluar kolam, Ia jatuh persis di kaki penjala ikan, yang tentu saja terkejut. Namun karena Si Pandai menahan nafas, si penjala ikan mengira bahwa ikan itu sudah mati, lalu melemparnya kembali ke kolam. Si Pandai pelan-pelan meluncur ke lubang kecil di dasar tepi kolam.


2) Ikan kedua, Si Agak-Pandai, tidak begitu paham tentang apa yang sedang terjadi. Ia lantas berenang mendekati Si Pandai dan bertanya tentang segala sesuatunya. "Sederhana saja," kata Si Pandai, "aku pura-pura mati, dan ia melemparku kembali."


Si Agak-Pandai pun segera melompat keluar air, jatuh dekat kaki penjala ikan itu. "Aneh," pikir penjala itu, "ikan-ikan ini berloncatan keluar dari kolam," Karena Si Agak-Pandai lupa menahan nafas, tahulah penjala ikan itu bahwa ikan itu masih hidup dan menaruhnya dalam keranjang.


Ia kembali mengamati kolam, dan karena masih bingung akan perilaku ikan-ikan yang berloncatan ke tanah kering di dekatnya, ia pun lupa menutup keranjangnya. Si Agak-Pandai, begitu menyadarinya, berjumpalitan berulang kali, lagi dan lagi, hingga berhasil masuk kembali ke kolam. Ia mencari ikan pertama dan dengan terengah-engah bersembunyi di sampingnya.



3) Ikan ketiga, Si Bodoh, tak mampu memetik pelajaran dari semuanya, bahkan setelah ia mendengarkan cerita ikan pertama dan kedua. Mereka terpaksa kembali bercerita, menegaskan pentingnya menahan nafas, untuk berpura-pura mati.


"Terimakasih banyak, saya sudah mengerti," ujar Si Bodoh. Selesai berkata, ia melentingkan tubuhnya keluar air, mendarat tepat di sebelah kaki penjala ikan itu.


Penjala ikan itu, yang telah kehilangan dua ekor ikan sebelumnya, menaruh ikan yang satu itu ke dalam keranjang tanpa mau repot rnemastikan apakah ikan itu hidup atau mati, ia menebar jalanya lagi dan lagi ke kolam, namun kedua ikan yang pertama telah aman bersembunyi di dasar kolam. Kali ini keranjang itu benar-benar tertutup rapat.


Akhirnya, penjala ikan itu berhenti. Ia membuka keranjang, dilihatnya ikan bodoh itu tidak bernafas, dan membawanya pulang untuk santapan kucing

Jumat, 02 Agustus 2024

 MENYESAL UCAPAN HAMDALAH SEKALI DAN BERISTIGHFAR 30 TAHUN


SEMOGA SEHAT PANJANG USIA BERKAH 


Dalam  Hikayat Keajaiban Istighfar dan Shalawat Nabi, Fuad Abdurrahman :


Syekh Sirri al-Saqathi , paman Al-Junaid al-Baghdad, berkata, “Aku selama lebih kurang 30 tahun beristighfar, memohon ampunan dari Allah SWT atas ucapanku ‘Alhamdulillah’ yang hanya sekali pada suatu hari.”


Suatu waktu terjadi kebakaran hebat di Kota Baghdad, Irak. Ada seseorang yang datang kepada Syekh Sirri dan mengabarkan bahwa tokonya selamat dari kebakaran tersebut. Spontan, Syekh Sirri pun mengucapkan Alhamdulillah.


Namun, kemudian sang Syekh Sirri menyesali ucapan hamdalah tersebut. Ia menyesalinya sambil terus beristighfar selama 30 tahun kemudian. Bagi Syekh Sirri, ucapan hamdalahnya itu merupakan suatu kesalahan dan suatu perilaku yang kurang terpuji.


Syekh Sirri menyadari bahwa ungkapan syukurnya masih menandakan kecintaannya pada diri sendiri dan egois. Syekh Sirri merasa tidak peka terhadap penderitaan  korban kebakaran lainnya di sekitar tokonya itu. Syekh Sirri merasa kurang terpuji, karena dirinya gembira atas kesalamatan tokonya di saat orang lain kehilangan harta benda, bahkan nyawa.


Begitu besarnya penyesalan sang Syekh hanya gara-gara satu kali ucapan Alhamdulillah. Selama 30 tahun, ia dirundung penyesalan atas sikapnya yang mementingkan diri sendiri. Ia mensyukuri apa yang seharusnya disyukuri, tetapi di sisi lain beliau beranggapan bahwa rasa syukur itu tidak pantas untuk disyukuri karena hanya satu srlamat dan lainnya terbakar


Dari kisah ini, Syekh Sirri sedang mengajarkan  kita untuk tidak mementingkan diri sendiri dan mengesampingkan penderitaan orang lain

 MALAIKAT BERKELILING  MENCARI ORANG YANG DZIKIR  Mugi tansah sehat, lancar, berkah, panjang yuswo njih. Aamiin  Diriwayatkan dari Abu Hurai...