Kamis, 27 Juni 2024

 Raja menyolati pemabuk dan pezina?


 SEMOGA SEHAT PANJANG USIA BERKAH SELALU NJIH 


Suatu malam Sultan Murad IV, Raja Turki, merasa risau tanpa tahu penyebabnya, sampai akhirnya ia mengajak kepala pengawalnya untuk berjalan-jalan ke luar istana dengan menyamar layaknya rakyat biasa. Sampai akhirnya mereka menemukan seorang pria tergeletak di lorong sempit.


Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu. Namun orang yang tergeletak itu tak merespons dan diketahui bahwa ternyata ia telah meninggal. Sultan Murad IV sempat bingung, sebab orang-orang sekitar tak ada yang peduli sama sekali. Mereka tak ada yang mau menolong.


"Mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun orang di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya. "Siapa dia? Di mana keluarganya?" tanya Sultan Murad IV.


"Orang ini suka menenggak minuman keras dan berzina!" jawab salah seorang warga kepada Sultan Murad.


"Tapi, bukankah dia termasuk umat Nabi Muhammad?" kata Sultan Murad IV.


Orang-orang yang diajak bicara Sultan Murad IV terdiam. Pada akhirnya mereka tergerak untuk mengangkat jenazah lelaki tersebut untuk dibawa ke rumahnya. Ketika jenazah tiba di rumah keluarganya, orang-orang itu langsung pergi. Hanya tinggallah Sultan Murad IV dan kepala pengawalnya yang bertemu dengan istri pria tersebut.


Sang istri tak kuasa menahan tangis saat mendapati suaminya. Dalam tangisnya di samping jenazah suaminya sang istri mengucap doa, "Semoga Allah SWT merahmatimu wahai Wali Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang soleh."


Sultan Murad IV kaget saat mendengar doa perempuan tersebut yang menyebut bahwa pria yang meninggal itu adalah wali Allah. Sebab hal itu berbeda dan berlawanan dengan yang disebutkan oleh orang banyak


"Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah, sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya?"


Perempuan tersebut menjawab, "Hampir setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko minuman keras. Dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawa ke rumah lalu dibuang ke dalam toilet. Sambil berkata, "Aku telah meringankan dosa kaum muslimin."


Selain membeli minuman keras untuk dibuang ke toilet, pria tersebut juga sering mendatangi tempat pelacuran. Dia menemui sejumlah pelacur dan memberi mereka uang. Kepada para pelacur yang sudah dia beri uang, pria tersebut berkata, "Malam ini kalian sudah saya bayar, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi".


Pria itu kemudian pulang ke rumah. "Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pria-pria Islam," kenang perempuan tersebut menirukan ucapan sang suami.


Namun orang sekitar hanya tahu bahwa pria yang meninggal tersebut selama ini adalah orang yang sering membeli dan minum-minuman keras serta mendatangi tempat pelacuran. Mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya.


Sang istri sering menyampaikan kekhawatirannya kepada sang suami. "Suatu saat nanti kalau kamu mati, tidak ada kaum muslimin yang akan mau memandikan, mensholati dan menguburkan jenazahmu".


Mendengar ucapan suang istri, pria tersebut hanya tertawa. "Jangan takut, nanti kalau aku mati, aku akan disholati oleh Sultanku, kaum muslimin, para ulama dan para Wali," kata pria tersebut kepada istrinya.


Mendengar cerita tersebut, Sultan Murad IV menangis. Dia pun kemudian menyebutkan bahwa ia adalah Sultan yang sedang menyamar dan siap mengurusi jenazah pria tersebut sampai ke pemakaman.


"Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad dan besok pagi kita akan memandikannya, menshalatkannya, dan menguburkannya".


Atas perintah Sultan Murad IV, jenazah ini akhirnya menjalani proses pemakaman yang dihadiri para ulama, para wali Allah dan seluruh masyarakat Turki

Selasa, 25 Juni 2024

 Ukasyah, Sahabat Nabi yang Masuk Surga Tanpa Hisab


 SEMOGA SELALU SEHAT BERKAH NJIH AAMIIN 


Dalam nsiklopedia Biografi Sahabat Nabi karya Muhammad Raji Hasan Kinas:


Dalam menjalankan perintah Allah SWT untuk menyebarkan ajaran Islam, Nabi Muhammad SAW dibantu oleh para sahabatnya. Salah satu sahabat yang berperan dalam hal itu adalah Ukasyah bin Mihshan RA.


Ukasyah bin Mihshan RA merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW keturunan bani Asadi. Ukasyah RA sering dipanggil dengan Abu Mihshan, yang artinya seorang pejuang dan pahlawan Islam sejati. Ia memiliki cita-cita untuk syahid.


Ukasyah RA mengikuti berbagai peperangan bersama Rasulullah SAW. Ia tidak pernah takut dalam menghadapi musuh-musuh Allah SWT. Bahkan, Rasulullah SAW menunjuk bahwa Ukasyah RA adalah prajurit berkuda Arab yang tangguh.


Ukasyah RA rajin menghadiri majelis Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah. Ukasyah RA juga pernah mengikuti perang kecil yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy RA.


Suatu ketika, pasukan kecil tersebut istirahat di sebuah kebun kurma. Tiba-tiba, mereka melihat rombongan dagang milik Quraisy yang membawa bahan makanan dan barang dagangan lainnya.


Kemudian dengan dandanan seperti hantu, Ukasyah RA dan para sahabatnya menakut-nakuti kaum Quraisy tersebut. Kaum Quraisy yang ketakutan pun ditawan dan salah satu dari mereka dibunuh. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab.


Setelah Rasulullah SAW mengetahui kejadian itu, beliau berkata, "Aku tidak memerintahkan kalian untuk berperang di bulan haram." Rasulullah SAW juga tidak mau menerima barang rampasan dan para tawanan itu.


Hal tersebut membuat Ukasyah RA dan para sahabat mendapat celaan dari seluruh kaum muslim. Namun, celaan tersebut berakhir ketika Rasulullah SAW mau menerima rampasan tersebut.


Selain perang kecil tersebut, Ukasyah RA juga mengikuti Perang Badar. Ukasyah RA mengerahkan seluruh kemampuannya dalam berperang.


Ukasyah RA berperang dengan tangkas dan penuh semangat hingga pedangnya patah. Ketika Rasulullah SAW memberinya sebatang kayu, kayu itu berubah menjadi pedang putih yang sangat mematikan saat dipegang oleh Ukasyah RA.


Dengan pedang itu, Ukasyah RA bertempur dengan semangat yang penuh hingga akhirnya Perang Badar dimenangkan oleh kaum muslim. Tidak hanya Perang Badar, pedang yang diberi nama al-'Awn yang berarti pertolongan itu digunakan Ukasyah RA dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah SAW.


Ukasyah RA selalu ikut serta dalam peperangan melawan musuh Allah SWT. Pada 11 H, Ukasyah RA turut serta memerangi orang-orang murtad dan nabi-nabi palsu bersama pasukan Khalid bin al-Walid RA.


Ukasyah RA dan Tsabit bin Arqam RA diutus untuk memata-matai dan mencari kelemahan musuh. Namun dua musuh yang bernama Thulaihah dan Salamah mengetahui kedatangan mereka dan bertanya maksud kedatangan mereka.


Salamah langsung membunuh Tsabit RA, sedangkan Thulaihah kesulitan menjatuhkan Ukasyah RA. Hingga akhirnya, Ukasyah RA pun wafat karena sabetan pedang dan tusukan tombak musuh.


Khalid RA pun mengambil keputusan untuk menyerang musuh karena tak kunjung mendapat laporan dari Ukasyah RA dan Tsabit RA. Saat memasuki wilayah musuh, pasukan Khalid RA menemukan jenazah Ukasyah RA dan Tsabit RA.


Melihat jenazah dua sahabat dibunuh musuh, kaum muslim semakin bergelora untuk berperang. Mereka berjalan lebih cepat karena ingin segera bertemu musuh.


Demikianlah akhir perjalanan hidup Ukasyah bin Mihshan RA. Ukasyah RA akhirnya mendapatkan kesyahidan seperti yang dicita-citakannya.


Ukasyah Masuk Surga Tanpa Hisab

Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa Ukasyah RA akan masuk surga tanpa melalui hisab. Diriwayatkan Imam Bukhari, Imran bin Hishin berkata, "Tak ada ruqyah (jampi) kecuali ruqyah untuk sakit mata atau demam."


Imran pun menanyakan riwayat itu kepada Said bin Jabir, ia berkata, "Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Diperlihatkan kepadaku umat-umat terdahulu. Aku melihat satu dan dua orang nabi lewat diikuti kaumnya masing-masing. Sementara seorang nabi lainnya tidak diikuti siapa pun. Kemudian awan yang sangat hitam menutupi langit di atasku. Aku bertanya, 'Apa ini?' Dikatakan kepadaku, 'Itu Musa dan kaumnya'."


(Dan) Dikatakan (lagi), "Lihatlah ke arah ufuk!"


Ternyata (langit) tertutup awan hitam. Kemudian dikatakan lagi kepadaku, "Lihatlah ke sini dan di ufuk langit!" Ternyata awan hitam benar-benar menutupi langit. Dikatakan kepadaku, "Itu adalah umatmu dan akan masuk surga dari mereka tujuh puluh ribu orang tanpa hisab."


Mereka berkata, "Kita adalah orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya. Berarti, mereka yang dimaksudkan dalam sabda beliau adalah kita, atau mungkin anak-anak kita yang lahir dalam Islam, sementara kita dilahirkan pada masa Jahiliah."


Rasulullah SAW yang mendengar perbincangan mereka pun bersabda, "Mereka adalah orang yang tidak mendengar hal buruk, tidak berputus asa, tidak terburu-buru, dan kepada Tuhan mereka bertawakal."


Ukasyah RA bertanya, "Apakah aku termasuk dalam kelompok mereka, wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab, "Benar"

Semoga Allah SWT merahmatinya.

Sabtu, 22 Juni 2024

 ABU QILABAH

(Tak Berkaki Tangan, Sahabat Nabi  Tersabar)


SEMOGA SEHAT SELALU SEDOYO KELUARGI NJIH


Diceritakan dalam riwayat Abdullah bin Muhammad RA. 


Rasulullah SAW memiliki banyak sahabat yang terkenal dengan sifat kesabaran mereka dalam menghadapi cobaan dan ujian. Salah satu sahabat Rasulullah yang dikenal paling sabar adalah Abu Qilabah.

Abu Qilabah juga merupakan salah satu dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.


Sahabat Rasulullah SAW adalah orang-orang yang menemani Rasulullah SAW dalam memperjuangkan Islam. Mereka senantiasa melindungi Rasulullah SAW dalam keadaan apapun.


Sosok Abu Qilabah pernah diceritakan dalam riwayat Abdullah bin Muhammad RA. Ia bercerita saat dirinya berada di daerah perbatasan, wilayah Arish di negeri Mesir, ia melihat sebuah kemah kecil.


Kemah tersebut menunjukkan pemiliknya adalah orang yang sangat miskin. Lalu, Abdullah bin Muhammad RA pun mendatangi kemah yang berada di padang pasir tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya.


Kemudian, Abdullah bin Muhammad RA melihat seorang laki-laki. Namun, kondisi laki-laki tersebut sedang berbaring dengan keadaan tidak memiliki tangan dan kakinya, telinganya sulit mendengar, matanya tidak bisa melihat, dan tidak ada yang tersisa selain lisannya yang berbicara.


Lelaki tersebut berkata, "Ya Allah berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. Dan Engkau sangat muliakan aku dari ciptaan-Mu yang lain."


Abdullah bin Muhammad RA pun menemuinya, dan berkata, "Wahai saudaraku, nikmat Allah mana yang engkau syukuri?"


Kemudian laki-laki pemilik kemah itu menjawab, "Wahai saudara, diamlah. Demi Allah, seandainya Allah datangkan lautan, niscaya laut tersebut akan menenggelamkanku atau gunung api yang pasti aku akan terbakar atau dijatuhkan langit kepadaku yang pasti akan meremukkanku. Aku tidak akan mengatakan apapun kecuali rasa syukur."


Abdullah bin Muhammad RA kembali bertanya, "Bersyukur atas apa?"


Laki-laki pemilik kemah itu menjawab lagi, "Tidakkah engkau melihat Dia telah menganugerahkan aku lisan yang senantiasa berdzikir dan bersyukur. Di samping itu, aku juga memiliki anak yang waktu salat ia selalu menuntunku untuk ke masjid dan ia pula yang menyuapiku. Namun sejak tiga hari ini dia tidak pulang kemari. Bisakah engkau tolong carikan dia?"


Abdullah bin Muhammad RA pun menyanggupi dan pergi untuk mencari anak lelaki itu. Setelah beberapa saat mencari, Abdullah bin Muhammad RA malah mendapati jenazah yang sedang dikelilingi oleh singa. Ternyata seorang anaknya laki-laki yang sudah diterkam oleh singa, putra dari pemilik kemah.


Abdullah bin Muhammad RA pun bingung bagaimana cara mengatakannya kepada laki-laki pemilik kemah itu. Ia kembali dan berkata dengan tujuan menghibur, "Wahai saudaraku, sudahkah engkau mendengar kisah tentang Nabi Ayyub?"


Laki-laki itu menjawab, "Iya, aku tahu kisahnya."


Kemudian Abdullah bin Muhammad RA bertanya lagi, "Sesungguhnya Allah telah memberinya cobaan dalam urusan hartanya. Bagaimana keadaannya dalam menghadapi musibah itu?"


Ia menjawab, "Ia menghadapinya dengan sabar."


Abdullah bin Muhammad RA kembali bertanya, "Wahai saudaraku, Allah telah menguji Ayyub dengan kefakiran. Bagaimana keadaannya?"


"Ia bersabar."


"Ia juga diuji dengan penyakit di badannya, bagaimana keadaannya?"


"ia tetap bersabar. Sekarang katakan padaku di mana anakku?"


Kemudian barulah Abdullah bin Muhammad RA berkata, "Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau."


Kemudian laki-laki pemilik kemah ini mengatakan, "Alhamdulillah, yang Dia tidak meninggalkan keturunan bagiku yang bermaksiat kepada Allah sehingga ia di azab di neraka."


Tak lama, lelaki itu menarik napas panjang lalu meninggal dunia. Abdullah bin Muhammad RA pun membaringkannya di tangannya. Lalu, Abdullah bin Muhammad RA berinisiatif menutupi sang lelaki dengan jubahnya hingga lewatlah empat orang laki-laki mengendarai kuda.


Mereka berkata, "Wahai saudara, apa yang terjadi padamu?"


Kemudian, Abdullah bin Muhammad RA pun menceritakan kepada mereka apa yang telah dialaminya. Ia pun meminta bantuan kepada mereka untuk mengurus jenazah laki-laki kemah tersebut.


Mereka bertanya, "Siapa dia?"


Lalu, Abdullah bin Muhammad RA menjawab, "Aku juga tidak mengenalnya, dia dalam keadaan sakit dan memprihatinkan."


Keempat laki-laki itu meminta untuk membuka penutup wajahnya karena mungkin salah satu dari mereka mengenalnya. Kala dibuka, tiba-tiba mereka tersentak, lalu mencium dan menangisinya, dan berkata, "Subhanallah, wajah yang senantiasa bersujud kepada Allah. Mata yang selalu menunduk atas apa yang diharamkan Allah. Tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur."


Kemudian mereka berkata, "Ini adalah Abu Qilabah, sahabat dari Ibnu Abbas. Laki-laki ini pernah dimintai oleh khalifah untuk menjadi seorang hakim. Namun, ia menolak jabatan tersebut."


Perlu diketahui bahwa jabatan hakim atau qadhi ini adalah suatu jabatan khusus, di mana mereka akan mengatur hukum dan menentukan hukum di antara manusia. Ini merupakan jabatan yang mulia pada saat itu. Namun, Abu Qilabah menolaknya dan pergi ke wilayah Mesir hingga wafat dalam keadaan seperti ini.


Kemudian Abdullah bin Muhammad RA bersama empat laki-laki tadi pun memandikan, mengafani, dan menyalatkan Abu Qilabah. Dikatakan dalam kisah lain bahwa Abu Qilabah adalah sahabat Rasulullah SAW terakhir pada masa itu sehingga khalifah ingin menjadikannya seorang hakim

Rabu, 19 Juni 2024

 Kyai dan Kupu-Kupu


 SEMOGA PANJANG USIA SEHAT DAN BERKAH NJIH AAMIIN 


QS.AL AN’AM:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” 


Suatu sore, seorang kakek tua pulang dari mengumpulkan ranting kayu bakar di gunung yang akan digunakan menghangatkan gubuknya yang dingin


Dalam perjalanan pulang sang Kyai berjumpa seorang pemuda yang baru saja menangkap seekor kupu kupu di genggaman tangannya. Pemuda ini ingin menguji sang sufi.


Pemuda itu mengajaknya untuk bertaruh, “pak kyai bagaimana kalau kita bertaruh?”


“Bagaimana bertaruhnya??,” tanya Kyai


Coba tebak, kupu kupu dalam genggamanku ini hidup atau mati. Kalau kamu kalah, sepikul ranting itu jadi milikku,” jawab si pemuda.


Sang Kyai setuju, lalu menebak, “Kupu kupu di dalam genggamanmu itu pasti mati.”


Sang pemuda tertawa ngakak, “Kamu Salah!!!”. Sambil membuka genggamannya, kupu kupu itu pun terbang pergi.


Sang Kyai berkata, “Baiklah, ranting ini milikmu,” ujar sang Kyai seraya menaruh pikulan rantingnya dan pergi dengan gembira.


Si pemuda tidak mengerti kenapa sang sufi begitu gembira, dalam hati pemuda itu hanya ada kegembiraan telah mendapat sepikul ranting pohon untuk dibawanya pulang.


Di rumah, ayah pemuda itu bertanya soal asal-muasal sepikul ranting pohon itu. Si pemuda dengan bangga menceritakan kisah sesungguhnya.


Ayahnya marah setelah mendengar cerita si pemuda, dan berkata, “Kamu mengira kamu benar benar menang? Kamu salah, sebenarnya kamu kalah, tapi tidak mengetahui bagaimana kalahnya.”


Si pemuda tambah bingung. Si ayah memerintahkan anaknya memikul rantingnya, berdua mereka mengantarkan kayu itu ke gubuk sang Kyai dan meminta maaf kepadanya.


Sang kyai itu hanya mengangguk kepalanya sambil tersenyum tanpa bilang apapun. Dalam perjalanan pulang, si pemuda bertanya soal ketidak mengertiannya kepada ayahnya. Si ayah menarik napas panjang dan menerangkannya.


Kyai itu sengaja bilang kalau kupu kupu itu sudah mati, baru kamu mau melepaskan kupu kupu itu, sehingga kamu menang. Kalau kyai itu bilang kupu kupu itu hidup, kamu pasti meremas kupu kupu itu dalam genggamanmu hingga mati, juga kamu yang menang. Kamu mengira kyai itu tidak mengetahui kelicikanmu?”


“Beliau kalah sepikul ranting pohon, tapi memenangkan cinta kasih. Ranting Pohon bisa didapat dan dicari kembali tapi kehidupan/nyawa jika sudah hilang tidak bisa kembali.” (laduni.Id)

Senin, 17 Juni 2024

 Kyai Perintahkan 7 Santri Sembelih Ayam


 SEHAT PANJANG USIA BERKAH SELALU NJIH 


Sebagai seorang guru tasawuf, Syekh Atho' Assilami sangat disegani oleh para muridnya. Meskipun hanya berjumlah tujuh orang, ada saja salah satu di antaranya yang menjadi kesayangan Syekh Atho'. Namanya Ibrahim.  


Dasar masalah hati, mau disimpan bagaimanapun kecintaan Syekh Atho' pada Ibrahim tetap terbaca oleh keenam murid lainnya. Praktis, hal itu menimbulkan kecemburuan tersendiri di kalangan mereka. Syekh Atho' ternyata menyadari hal itu. Namun, ia pun juga tak ingin menimbulkan perselisihan dengan menjelaskan secara panjang lebar kelebihan Ibrahim dibanding teman seperjuangannya itu. Takut jikalau itu malah tidak objektif dan terlalu dilebih-lebihkan. Yang justru, nantinya malah akan meningkatkan rasa kecemburuan di antara mereka, para muridnya. 


Akhirnya, Syekh Atho' pun memiliki cara yang lebih elegan. Dipanggilnya ketujuh muridnya untuk diberi tugas. Ia berkata kepada murid-muridnya, "Wahai anak-anakku. Sembelihlah ayam ini, namun jangan sampai ada siapa pun yang mengetahuinya. Siapa pun ia," perintah Syekh Atho' tegas. Setelah kesemuanya menerima ayam dan sebilah pisau, ketujuh muridnya lalu dipersilakan untuk mencari tempat sesuka mereka. 


Tanpa pikir panjang dan tunggu lama, murid-murid itu pun bergegas mencari lokasi yang tepat, yang tersembunyi, yang—menurut mereka—tidak akan terlihat oleh siapa pun. Tak selang beberapa lama, satu per satu murid Syekh Atho' pun kembali dengan membawa ayam yang telah terpotong lehernya. Sambil berkata congkak bahwa mereka yakin tak ada siapa pun yang mengetahuinya. 


Tetapi, setelah sekian lama, ada salah satu murid Syekh Atho' yang tak kunjung kembali. Ya, ia adalah Ibrahim, murid kesayagannya. Semua temannya heran, mengapa ia begitu bodohnya mencari lokasi tersembunyi, batin teman-temannya.  


Berbeda dengan Syekh Atho', ia justru tampak tenang sekali. Ternyata, beberapa saat kemudian Ibrahim kembali dengan ayam yang masih hidup. Tanpa pisau yang berdarah, dan ayam yang masih juga bersih. 


Syekh Atho' pun dengan bangga lantas bertanya, "Wahai Ibrahim, mengapa ayammu masih hidup? Bukankah aku perintahkanmu untuk menyembelihnya?" "Maaf sang guru, bukannya saya hendak melawan perintah Anda. Namun, saya benar-benar tak bisa menyembelih ayam ini tanpa diketahui siapa pun. Bagaimanpun juga, saya tidak bisa mengingkari hati nurani saya bahwa di mana pun saya berada, Allah akan tetap melihat apa yang saya kerjakan," jawab Ibrahim dengan lugunya. Sontak, seluruh temannya tertunduk malu. Bagaimana mereka begitu yakin, jika tidak ada siapa pun yang melihat perlaku mereka. Padahal sang guru telah mendidik hatinya sedemikian rupa, agar mereka selalu menancapkan Allah dalam relung sanubari.  


Lewat kejadian itu pun, para murid akhirnya sadar mengapa sang guru begitu sayang terhadap Ibrahim. Dan sejurus dengan kesadaran mereka, Ibrahim lantas dipersilakan duduk di samping gurunya itu. Sedang Syekh Atho' tanpa berkata apa pun, kembali terpejam dan melanjutkan dzikirnya.

(Dari Buku “Menuju Ketenangan Batin”, KH M Cholil Bisri)


Muhammad Asrofi
KUA Kapanewon Pundong
NON PNS

Jumat, 14 Juni 2024

 Takbiran

(Malem Senin magrib sd Kamis Asar)


 SEHAT, LANCAR BERKAH SEDOYO URUSAN NJIH 


1) Dua Jenis Takbiran


Syekh Abu Abdillah Muhammad ibn Qasim as-Syafi'i dalam Fathul Qarib al-Mujib, takbir dalam 'id ada dua macam:


 - Takbir mursal 

(Untuk Hari Raya Idul Fitri)


takbir yang waktunya tidak mengacu pada waktu shalat,  dilakukan setiap waktu, di mana pun dan dalam keadaan apapun., dimulai dari terbenamnya matahari malam 'idulfitri hingga imam melakukan takbiratul ihram shalat 'id.


- Takbir muqayyad : 

(untuk Hari Raya Idul Adha)


memiliki waktu khusus, mengiringi shalat (fardhu maupun sunnah) , malam 'idul adha hingga ashar akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah)

 MULAI MAGRIB SENIN SD KAMIS ASAR NJIH 


2) Lafal Takbir berapa kali

(Saling menghormati jika berbeda


- dua kali: 

HR. Al-Baihaqi:


كَانَ سَلْمَانُ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ يُعَلِّمُنَا التَّكْبِيرَ يَقُولُ : كَبِّرُوا اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا    


“Salman mengajari kami lafal takbir, ia berkata: ‘Bertakbirlah, Allâhu akbar Allâhu akbar, sungguh maha besar” 


HR. Ibnu Mundzir:

أَنَّ عُمَرَ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلَاهِ الْغَدَاةِ يَوْمَ عَرَفَةَ إلَي صَلَاةِ الظُّهْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ يُكَبِّرُ فِي الْعَصْرِ يَقُوْلُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أكْبَرُ الله أكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ   


“Sahabat ‘Umar bertakbir mulai shalat subuh pada hari Arafah sampai shalat Dhuhur dari akhir hari tasyriq, beliau takbir pada shalat ashar dengan mengucapkan 'Allâhu akbar Allâhu akbar lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillâhi-l-hamd” 


- tiga kali:

HR. Daruqutni:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا صَلَّى الصُبْحَ مِنْ غَدَاةِ عَرَفَةَ يَقْبَلُ عَلَى أَصْحَابِهِ فَيَقُوْلُ عَلَى مَكَانِكُمْ وَيَقُوْلُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ فَيُكَبِّرُ مِنْ غَدَاةِ عَرَفَةَ إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ   


“Rasulullah saw ketika usai shalat subuh pada hari arafah, beliau menghadap para sahabat, lalu bersabda: 'Tetaplah dalam posisi kalian' dan beliau berkata: “Allâhu akbar Allâhu akbar Allâhu akbar lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillâhi-l-hamd” beliau bertakbir mulai dari usai shalat subuh pada hari arafah sampai setelah shalat ashar dari akhir hari tasyriq” 


Muhammad Asrofi
KUA Kapanewon Pundong
NON PNS

Selasa, 11 Juni 2024

 Puasa Tarwiyah dan Arafah

( Besuk Sabtu Minggu Tanggal 15 dan 16 Juni 2024? )


 SEHAT PANJANG USIA BERKAH SELALU NJIH DULUR KITO 


1) HR Abus Syekh Al-Ishfahani dan Ibnun Najar:

صوم يوم التروية كفارة سنة 

وصوم يوم عرفة كفارة سنتين


Puasa hari Tarwiyah dapat menghapus dosa setahun. 

Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun


2) Niat


- Puasa Tarwiyah  8 Dzulhijjah

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnati yaumit tarwiyah lillâhi ta‘ālā.

(Aku berniat puasa sunnah Tarwiyah esok hari karena Allah SWT)


- Puasa Arafah 9 Dzulhijjah

نويتُ صومَ عرفة سُنّةً لل تعالى

Nawaitu shouma arafata sunnatan lillahi ta’ala

(Saya berniat puasa sunah Arafah karena Allah ta’ala)


Muhammad Asrofi
KUA Kapanewon Pundong
NON PNS

Sabtu, 08 Juni 2024

Tidak Potong Kuku dan Rambut ?

 Tidak Potong Kuku dan Rambut ?


SEHAT SELALU NJIH


HR Ibnu Majah, Ahmad, dll

 إذا دخل العشر من ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره ولا بشره شيئا حتى يضحي 

Bila sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah masuk dan seorang di antara kamu hendak berkurban, maka janganlah menyentuh rambut dan kulit sedikitpun, sampai (selesai) berkurban,” 


1) Pendapat pertama 

- mengatakan bahwa Nabi SAW melarang orang yang berkurban memotong kuku dan rambutnya (al-mudhahhi)

- Dalam Mirqatul Mafatih 

. الحاصل أن المسألة خلافية

- Imam Malik dan Syafi’i disunahkan tidak memotong rambut dan kuku bagi orang yang berkurban, sampai selesai penyembelihan, bila  memotong makruh. 

- Abu Hanifah hanyalah mubah (boleh), tidak makruh jika dipotong, dan tidak sunah pula bila tidak dipotong.

- Imam Ahmad mengharamkannya.


2) Pendapat kedua 

- y ang dilarang itu bukan memotong kuku dan rambut orang yang berkurban tetapi hewan kurbannya (al-mudhahha). 

- karena bulu, kuku, dan kulit hewan kurban tersebut akan menjadi saksi di hari akhirat kelak. 

- Imam An-Nawawi mengatakan, hikmahnya agar seluruh tubuh di akhirat kelak diselamatkan dari api neraka

- Pandangan ini sebetulnya tidak populer tetapi gharib (aneh/unik/asing)


3) Catatan

Selama menunggu proses kurban, 

- lebih baik tidak memangkas rambut ataupun memotong kuku, bila itu memang tidak diperlukan, jika kotor dan panjang silakan dipotong dan kurbannya tetap dilanjutkan. Sebab memotong rambut tersebut tidak berimplikasi pada sah atau tidaknya kurban

- jangan sampai kita mematahkan tanduk, kuku, ataupun memangkas bulu hewan kurban, karena kelak ia akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT


Muhammad Asrofi
KUA Kapanewon Pundong
NON PNS

Senin, 03 Juni 2024

 Qurban , MAKAN TERPEDO ?


1) Ibnu Abidin dalam Hasyiyatu Raddil Mukhtar,

مَا يَحْرُمُ أَكْلُهُ مِنْ أَجْزَاءِ الْحَيَوَانِ الْمَأْكُولُ سَبْعَةٌ : الدَّمُ الْمَسْفُوحُ وَالذَّكَرُ وَالْأُنْثَيَانِ وَالْقُبُلُ وَالْغُدَّةُ وَالْمَثَانَةُ وَالْمَرَارَةُ

- Sesuatu yang haram dimakan dari bagian anggota tubuh hewan yang boleh dimakan ada tujuh, yaitu darah yang mengalir, alat kelamin, dua testis, kemaluan kambing betina, ghuddah, kemih (kandung kencing), dan kandung empedu,”

- hadits yang diriwayatkan dari Mujahid: 

"Rasulullah SAW tidak menyukai tujuh bagian dari kambing yaitu darah, kandung kemih, alat kelamin, dua testis, kemaluan, ghuddah, kandung kencing. Dan bagian kambing yang paling disukai Rasulullah saw adalah hasta dan bahunya."

- pendapat ulama dari kalangan Mazhab Hanafi,7 bagian  hewan yang tidak boleh dimakan (darah yang mengalir, alat kelamin, testis, kelamin betina, ghuddah, kemih, dan kandung empedu)

- Al-Kasani salah satu ulama dari Mazhab Hanafi, , ketidaksukaan Rasulullah SAW dalam konteks ini maksudnya adalah makruh tahrim.


2) Mayoritas besar ulama dari Mazhab Syafi'i tidak mengharamkan torpedo kambing.

- Muhyiddin Syarf An-Nawawi dalam  Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab  dha'if (lemah),  tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum

- Ibnu Habib dari  Madzhab Maliki,  testis hewan yang halal dimakan adalah tidak sampai dihukumi haram sebagaimana dalam  At-Taj wal Iklil 

وَرَوَى ابْنُ حَبِيبٍ اسْتِثْقَالَ أَكْلِ عَشْرَةٍ دُونَ تَحْرِيمِ الْأُنْثَيَانِ وَالْعَسِيبُ وَالْغُدَّةُ....

“Ibnu Habib meriwayatkan tentang menganggap beratnya memakan sepuluh bagian tubuh hewan yang halal tetapi tidak diharamkan, yaitu dua testis, alat kelamin, ghuddah

- konsensus para ulama menyebutkan hanya darah hewan yang haram untuk dikonsumsi


Muhammad Asrofi
KUA Kapanewon Pundong
NON PNS

 MALAIKAT BERKELILING  MENCARI ORANG YANG DZIKIR  Mugi tansah sehat, lancar, berkah, panjang yuswo njih. Aamiin  Diriwayatkan dari Abu Hurai...