Rabu, 30 Oktober 2024

 SHOLAT 2


SEHAT. PANJANG USIA DAN BEERKAH SEDOYO KELUARGI NJIH. AMIN



 1) HR. Ahmad


عَنْ اَبِی ذَرٍّ رَضِیَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنَ الشِّتَاءِ  وَالْوَرَقُ يَتَهَافَتْ فَأَخَذَ بُغُصْنَيْنِ مِنْ شَجَرَةٍ. قَالَ: فَجَعَلَ ذَلِكَ يَتَهَافَتُ فَقَالَ يَا أَبَاذَرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ ياَ رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ الْمُسْلِمَ لَيُصَلِّي الصَّلاَةَ يُرِيْدُ بِهَا وَجْهُ اللهِ فَتَهَافَتَ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ كَمَا تَهَافَتَ هَذَا الْوَرَقُ عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ. رواه احمد


“Dari Abu Dzar ra sesungguhnya Nabi sw keluar pada musim dingin, dimana daun pohon banyak yang rontok. Lalu beliau mengambil dua dahan dari salah satu pohon. Perawi berkata: Dahan yang diambil oleh Nabi itu pun rontok daunnya. + Lalu Nabi Muhammad saw bersabda: ‘Wahai Abu Dzar.’

_ Aku berkata: ‘Labbaika ya Rasulullah.’ 

+ Lalu Nabi saw bersabda: ‘Sesungguhnya seorang hamba muslim menjalankan shalat dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah swt, lalu dosa-dosanya rontok sebagaimana daun ini terlepas dari pohon ini.” 


2) HR. Thabrani dan Al-Baihaqi


عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِیَ اللهُ عَنْهُمَا. إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ يُصَلِّی آتَی بِذُنُوْبِهِ كُلِّهَا فَوَضَعَتْ عَلَى رَأْسِهِ وَعَاتِقَيْهِ فَكُلَّمَا رَكَعَ اَوْ سَجَدَ تَسَاقَطَتْ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ. رواه الطبراني والبيهقي


“Dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya hamba apabila berdiri menjalankan shalat, maka dosa-dosanya didatangkan dan di letakkan di atas kepalanya dan dua pundaknya. Setiap rukuk atau sujud, dosa-dosanya rontok daripadanya.” 


3) HR. Muslim


عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَحْضُرُ صَلَاةً مَكْتُوْبَةً فَيُحْسِنُ وُضُوْئَهَا وَخُشُوْعَهَا وَ رُكُوْعَهَا اِلَّا  كَانَتْ لَهُ کَفَّارَةٌ لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُنُوْبِ مَالَمْ تَأْتِ كَبِيْرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرُ كُلُّهُ. رواه مسلم


Artinya: “Dari Sayyidina Usman ra, dari Nabi saw bersabda: ‘Tiadalah seorang muslim yang kedatangan waktu shalat wajib, lalu berwudhu’ dengan baik, menjalankan shalat dengan khusyuk, begitu juga rukuk dengan baik kecuali shalat itu akan menjadi penghapus dosa-dosa yang dijalankan sebelumnya, selama tidak menjalankan dosa besar. Sedemikian itu untuk seluruh masa.” 

Muhammad Asrofi
KUA Kapanewon Pundong
NON PNS

 SHOLAT 2


SEHAT. PANJANG USIA DAN BEERKAH SEDOYO KELUARGI NJIH. AMIN



 1) HR. Ahmad


عَنْ اَبِی ذَرٍّ رَضِیَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنَ الشِّتَاءِ  وَالْوَرَقُ يَتَهَافَتْ فَأَخَذَ بُغُصْنَيْنِ مِنْ شَجَرَةٍ. قَالَ: فَجَعَلَ ذَلِكَ يَتَهَافَتُ فَقَالَ يَا أَبَاذَرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ ياَ رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ الْمُسْلِمَ لَيُصَلِّي الصَّلاَةَ يُرِيْدُ بِهَا وَجْهُ اللهِ فَتَهَافَتَ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ كَمَا تَهَافَتَ هَذَا الْوَرَقُ عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ. رواه احمد


“Dari Abu Dzar ra sesungguhnya Nabi sw keluar pada musim dingin, dimana daun pohon banyak yang rontok. Lalu beliau mengambil dua dahan dari salah satu pohon. Perawi berkata: Dahan yang diambil oleh Nabi itu pun rontok daunnya. + Lalu Nabi Muhammad saw bersabda: ‘Wahai Abu Dzar.’

_ Aku berkata: ‘Labbaika ya Rasulullah.’ 

+ Lalu Nabi saw bersabda: ‘Sesungguhnya seorang hamba muslim menjalankan shalat dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah swt, lalu dosa-dosanya rontok sebagaimana daun ini terlepas dari pohon ini.” 


2) HR. Thabrani dan Al-Baihaqi


عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِیَ اللهُ عَنْهُمَا. إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ يُصَلِّی آتَی بِذُنُوْبِهِ كُلِّهَا فَوَضَعَتْ عَلَى رَأْسِهِ وَعَاتِقَيْهِ فَكُلَّمَا رَكَعَ اَوْ سَجَدَ تَسَاقَطَتْ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ. رواه الطبراني والبيهقي


“Dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya hamba apabila berdiri menjalankan shalat, maka dosa-dosanya didatangkan dan di letakkan di atas kepalanya dan dua pundaknya. Setiap rukuk atau sujud, dosa-dosanya rontok daripadanya.” 


3) HR. Muslim


عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَحْضُرُ صَلَاةً مَكْتُوْبَةً فَيُحْسِنُ وُضُوْئَهَا وَخُشُوْعَهَا وَ رُكُوْعَهَا اِلَّا  كَانَتْ لَهُ کَفَّارَةٌ لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُنُوْبِ مَالَمْ تَأْتِ كَبِيْرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرُ كُلُّهُ. رواه مسلم


Artinya: “Dari Sayyidina Usman ra, dari Nabi saw bersabda: ‘Tiadalah seorang muslim yang kedatangan waktu shalat wajib, lalu berwudhu’ dengan baik, menjalankan shalat dengan khusyuk, begitu juga rukuk dengan baik kecuali shalat itu akan menjadi penghapus dosa-dosa yang dijalankan sebelumnya, selama tidak menjalankan dosa besar. Sedemikian itu untuk seluruh masa.” 

Senin, 14 Oktober 2024

 Masuk surga lewat 

Pintu spesial.


 SEHAT SELALU NJIH


فَقَدْ رُوِيَ عَنْ مُعَاذٍ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَطْعَمَ مُؤْمِنًا حَتَّى يُشْبِعَهُ مِنْ سَغَبٍ أَدْخَلَهُ اللهُ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ لَا يَدْخُلُهُ ٳِلَّا مَنْ كَانَ مِثْلَهُ. 

(رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ فِي الْكَبِيْرِ).


Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal, dari Nabi Muhammad bersabda: 


“Siapa memberikan makan orang mukmin sehingga dia kenyang dari kelaparannya, maka Allah akan memasukkannya ke satu pintu dari pintu-pintunya surga, tidak ada lagi yang masuk melalui pintu tersebut kecuali orang yang serupa dengannya.”

Muhammad Asrofi
KUA Kapanewon Pundong
NON PNS

Rabu, 09 Oktober 2024

 Sholat 1


 SEHAT SELALU NJIH DULUR KULO, AAMIIN 


Qs. Al-Munafiqun: 9


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ 


“Wahai orang-orang yang beriman janganlah hartamu, anak-anakmu melalaikanmu dari ingat pada Allah swt. Barangsiapa yang berbuat sedemikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” 


Maksud mengingat pada Allah swt dalam ayat tersebut adalah menjalankan shalat lima waktu. 


HR. Al-Hakim

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِیَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ مَا افْتَرَضَ اللهُ تَعَالَى عَلَى أمَّتِي الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ...


Dari Ibnu Umar ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Permulaan perkara yang diwajibkan oleh Allah swt kepada umatku adalah salat lima waktu. 


Permulaan pahala amal perbuatan mereka yang diangkat ke langit adalah pahala salat lima waktu. 


Permulaan amal perbuatan yang mereka ditanyai pertanggungan jawabnya adalah shalat lima waktu.


Oleh karena itu, barangsiapa yang mengabaikan sesuatu daripada lima salat itu, maka Allah swt berfirman kepada malaikat: “Lihatlah apakah kamu menjumpai pada hambaku shalat sunah yang digunakan untuk menyempurnakan shalat wajib yang kekurangan ditinggalkan. 


Dan lihatlah puasanya hambaku pada bulan Ramadan apabila ternyata mengabaikan sesuatu daripadanya.


Maka lihatlah, apakah menjumpai puasa sunah yang pernah dilakukannya, sehingga kamu bisa melengkapi puasa yang diabaikan dengan puasa sunah tersebut. 


Dan lihatlah zakatnya hambaku. Apabila mengabaikan sesuatu daripadanya. Maka lihatlah apakah kamu menemukan sedekah sunah yang dilakukan oleh hamba-Ku sehingga kamu bisa mengisi apa yang kekurangan dari zakat wajib itu.


Seluruh kesunahan itu diambil untuk kewajiban-kewajiban Allah swt. Sedemikian itu dilakukan lantaran belas kasih Allah swt dan keadilan-Nya. Apabila memang terdapat kelebihan maka diletakkan pada timbangannya, dan dikatakan kepadanya: masuklah ke surga dengan gembira.


Apabila kelebihan itu tidak ada pada amal perbuatannya maka malaikat zabaniyah diperintahkan untuk menghukumnya, lain kaki dan tangannya diringkus untuk dilemparkan ke neraka.”



Muhammad Asrofi
KUA Kapanewon Pundong
NON PNS

Rabu, 14 Agustus 2024

 Pelacur & Anjing SERTA Kyai & Burung


 MUGI SEHAT PANJANG USIA BERKAH NJIH 


Dalam: Buku Dalam Pelita Hati 


Alkisah


1) eorang pelacur tua, mungkin tinggal seonggok daging dan penuh dengan kuman penyakit kotor, tertatih-tatih menempuh perjalanan di padang pasir. Perbekalan tinggal air sekendi belaka, padahal perjalanan masih jauh. Tiba-tiba dilihatnya seekor anjing tergeletak begitu saja di tempat sepanas itu. Tiada harapan lagi untuk hidup, karena sudah tidak kuasa berjalan lagi. Tinggal menunggu saat kematian. Tak sampai hatinya melihat penderitaan anjing itu, pelacur tersebut lalu meminumkan airnya yang tinggal sedikit itu ke mulut makhluk sial dangkalan itu. Makhluk hina itu lalu mampu meneruskan perjalanan, dan menyelamatkan diri dari kematian.


Menurut cerita itu, sang pelacur akhirnya mati kehausan, sang anjing selamat sampai di kota dan berhasil memelihara kelangsungan hidupnya. Tetapi, kematian pelacur itu berujung pada kebahagiaan abadi, karena ia langsung masuk sorga abadi, sorga tertinggi. Karena keibaannya yang tiada terhingga kepada makhluk lain, hingga melupakan keselamatan diri sendiri, ia memberikan darma bakti tertinggi kepada kemanusiaan. Ini yang disebut kebahagiaan tanpa batas, dan dengan itu ia bermodal cukup untuk masuk sorga. Walaupun sebelum itu, ia sudah begitu rupa bergelimang dengan dosa.


2) Lain lagi kisahnya sang kiai


Sewaktu akan bepergian ke kota lain, kiai bujangan yang berdiam seorang diri di rumahnya, samar-samar ingat akan kebutuhan burung peliharaannya kepada air minum. Rasa malasnya timbul. Ah, biarkan saja, tidak apa-apa, binatang kan tahan haus. Itu pun hanya sehari. Ternyata kiai yang saleh dan berpengetahuan agama sangat mendalam itu terhambat perjalanannya, kembali ke rumah beberapa hari kemudian. Didapatinya burung tersebut sudah mati. Karena burung toh bukan makhluk berharga mahal, ia pun segera melupakan akan hal itu. Biasanya saja, ada makhluk lahir dan ada makhluk mati, soal kehausan hanyalah sebab belaka.


Bagaimana nasib kiai tersebut di akhirat kelak? Menurut cerita sufi itu, ia masuk neraka wail, neraka terdalam. Pasalnya? Karena ia menganggap sepele keselamatan makhluk yang ada di dunia ini. Setiap makhluk, dari yang sebesar- besarnya hingga yang sekecil-kecilnya sekalipun, memiliki nilainya sendiri. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi siklus kehidupan secara umum. Bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi. Dengan kata sederhana, sikap pak kiai saleh dan berilmu agama mendalam itu adalah sikap meremehkan pentingnya arti kehidupan secara keseluruhan. Sikap tidak menghargai keagungan dan kehebatan kreasi Allah yang sangat menakjubkan itu. Sikap meremehkan kehendak Allah akan perlunya kehidupan dilestarikan sebagai tanda pengakuan akan keagungan dan kebesarannya sendiri.


Dua dimensi dari cinta dan kasih sayang sesama makhluk, seperti dipaparkan cerita sederhana di atas, menunjukkan dengan jelas, bahwa keberagamaan secara formal semata-mata belum menjamin adanya rasa keberagamaan dalam arti sesungguhnya. Masih jauh nian, jarak antara formalitas kehidupan beragama dan kedalaman kehidupan beragama itu sendiri. Masih sangat lebar jurang antara religi dan religiusitas, antara hidup beragama dan rasa keberagamaan.


Tuntutan bagi kita sudah tentu adalah bagaimana menjembatani antara keduanya. Semata-mata mengandalkan religi atau formalitas keagamaan belaka, kita tidak akan mencapai religiusitas, atau rasa keberagamaan, yang cukup mendalam untuk menyelamatkan diri dari godaan melupakan kebesaran Allah dan keagungan-Nya. Ternyata tidak mudah menjadi seorang beragama yang benar-benar dapat dinamakan beragama njih

Sabtu, 10 Agustus 2024

 Kisah  Pengemis  Menolak Sedekah

( Abul Qasim al Junaid wafat 910 M di Baghdad.)


SEMOGA SELALU SEHAT BERKAH SEMUA KELUARGA NJIH

 

Dalam kisah masa kecil Abul Qasim al Junaid ibnu Muhammad al Khazzazal Nihawandi  oleh Fariduddin Aththar: 


Suatu hari, Junaid pulang dari ngaji. Ia menemukan ayahnya tengah menangis tersedu di atas sajadahnya.


“Ayah, apa yang terjadi?” tanya Junaid khawatir.


“Ayah ingin memberikan sedekah kepada pamanmu, Sarri,” tutur sang ayah. “Namun ia tidak mau menerimanya. Ayah menangis karena ayah telah mencurahkan seluruh hidup ayah untuk dapat menyisihkan uang lima dirham ini, tapi ternyata uang ini tidak memenuhi syarat untuk dapat diterima oleh seorang Sahabat Allah.”


Junaid yang masih berusia sepuluh tahun itu diam sejenak untuk berpikir, mencari solusi bagi ayahnya yang sedang sedih.


“Ayah…,” tak lama kemudian ia angkat bicara. “Bagaimana kalau uang itu aku yang memberikan? Siapa tau Paman Sarri akan luluh dan mau menerimanya,” rayu Junaid.


Sang ayah yang melihat umur Junaid belum cukup dewasa pun hanya menatap wajahnya sebentar, lalu berkata, “Anakku, kau masih kecil. Ayah saja ditolak, bagaimana denganmu yang belum mengerti asam garam kehidupan.” Jawabnya.


“Ayah, izinkanlah saya mencobanya.” Ucap Junaid tak kehilangan akal.


Akhirnya, sang ayah pun luluh dan memberikan uang itu kepadanya. Junaid pun pergi. Dan, sesampainya di rumah sang paman, Junaid segera mengetuk pintu.


“Siapa itu?” Terdengar suaru dari dalam rumah.


“Junaid, Paman.” Jawabnya. “Mohon buka pintu sebentar, dan terimalah tawaran sedekah ini.”


“Aku tidak akan menerimanya,” pekik Sarri.


“Aku mohon terimalah ini, Demi Tuhan yang telah begitu dermawan padamu dan telah begitu adil pada ayahku,” jawab Junaid.


“Junaid, apa maksudmu Allah begitu dermawan padaku dan begitu adil pada ayahmu?” tanya Sarri.


Junaid menjawab, “Allah begitu dermawan padamu karena Dia telah menganugerahimu kemiskinan. Sedangkan pada ayahku, Allah telah begitu adil dengan menyibukkannya dengan urusan-urusan dunia. Engkau memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak sedekah. Sedangkan ayahku, suka atau tidak, harus menyampaikan sedekah—yang dititipkan Allah padanya—kepada orang-orang yang berhak seperti paman.”


Jawaban Junaid ini membuat hati Sarri terenyuh. “Anakku, sebelum aku menerima sedekah ini, aku telah lebih dulu menerimamu,” ujar Sarri.


Sarri pun kemudian membuka pintu dan menerima sedekah itu. Ia menempatkan Junaid di tempat yang istimewa di dalam hatinya.


Begitulah saat Allah menitipkan nasihat-Nya melalui siapa dan apa pun yang ia kehendaki, termasuk pada mulut seorang anak kecil–yang kerap dinilai orang-orang dewasa tidak memiliki makna.


Begitu pun dengan kemiskinan dan kekayaan. Kadang, miskin dan kaya kerap dinilai sebagai ukuran kemuliaan seseorang. Namun di sisi orang-orang bertakwa, kemiskinan dan kekayaan hanya lah titipan. Keduanya merupakan bentuk kasih sayang Tuhan—yang masing-masingnya memiliki hak sekaligus kewajiban.


Si miskin memiliki hak untuk menolak sedekah, sedangkan si kaya punya kewajiban untuk menyampaikan sebagian hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan.


Namun, bagaimana jadinya, bila orang-orang yang disebutkan Alquran sebagai syarat penerima sedekah (fakir, miskin, dsb) memilih untuk menolak pemberian sedekah? Bukankah si kaya akan kehilangan kesempatan untuk membantu? Pun sebaliknya

Rabu, 07 Agustus 2024

 Abu Bakr Al Farghani, ahli ibadah dan tidak memiliki harta benda apapun


SEHAT BERKAH SELALU SEDOYO KELUARGI NJIH


Dalam Kitab Hilyat Al-Auliya’ Fi Thabaqat Al-Ashfiya’. 


Kisah yang paling terkenal tentang beliau adalah menahan rasa lapar sampai berpuluh-puluh hari lamanya. Sebetulnya Al Farghani memang bukan orang berada, namun ia menampilkan diri sebagai saudagar kaya, berpakaian rangkap berwarna putih, dilengkapi sorban dan sandal yang bersih, serta kunci yang menawan.


Entah apa alasan ia melakukan hal itu. Karena tidak memiliki tempat tinggal, setiap malam ia hanya tidur dari masjid ke masjid. Namun masyarakat hanya mengetahui kalau Al Farghani adalah seorang saudagar kaya, tentu karena penampilannya. Tidak banyak orang yang tahu siapa sebenarnya Al Farghani, hanya beberapa beberapa kalangan yang tahu keadaannya.


Pada suatu waktu ia pergi ke Mesir untuk sebuah keperluan. Ia tetap memakai pakaian menawan ala saudagarnya. Tentu saja ahli ibadah lain mengetahui bahwa ia adalah seorang ahli ibadah juga. Mereka pun berkumpul dan mendengarkan ceramah Al Farghani. Sampai suatu hari, ia pergi ke sebuah tempat yang jauh dan diikuti oleh ahli ibadah lain. Ternyata banyak ahli ibadah yang berhenti ditengah jalan karena tidak kuat lagi, akhirnya hanya sedikit yang dapat meneruskan.



Saat itu pula Al Farghani bertanya kepada pengikutnya, “Apakah kalian merasa kelaparan ?”. Sontak pengikutnya mengiyakan bahwa merasa kelaparan dan kehausan. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah desa. Ternyata di desa tersebut ada biara para rahib. Melihat rombongan yang kelelahan, sontak seorang rahib menyuruh rahib lain untuk memberi makan, “Tolong beri makanan dan minuman kepada rahib Muslim ini, sungguh terdapat dari mereka yang tidak sabar menahan rasa lapar”. Mendengar ucapan itu, Al Farghani merasa tersinggung dan berkata “Wahai rahib, apa engkau mengetahui ilmu tentang bersabar dalam kelaparan?”. Rahib itu pun menjawab “Tidak, bagaimana itu?”. Al Farghani pun menjawab dengan tegas “Wahai rahib, turunlah dari biara. Silahkan makan dan minum sepuasnya, lalu ikutlah denganku untuk masuk ruangan yang dikunci. Tidak diperbolehkan membawa apa-apa, kecuali air untuk bersuci” tangkasnya.


“Barangsiapa yang tidak kuat dengan ini, maka ia bias memberi tanda untuk keluar ruangan dan mengikuti ajaran di antara kita yang masih sehat. Bahkan aku sudah tiga hari tidak merasakan aroma makanan” lanjut Al Farghani. Akhirnya ia dan seorang rahib masuk ke dalam ruangan yang terkunci rapat. Para ahli ibadah pengikut Al Farghani dan rahib-rahib lain hanya mengamati. Bahkan sampai 40 hari mereka tidak melihat perubahan sedikitpun.


Sampai pada hari ke 41 terdengar suara pintu ruangan yang diketuk. Setelah dibuka, ternyata rahib tersebut meminta pertolongan, sedangkan Al Farghani tetap sehat dan hanya melihat hal itu. Orang-orang disekitar pun segera memberi minum kepada rahib yang meminta tolong. Setelah itu, rahib tersebut menghadap Al Farghani dan mengucap syahadat “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.


Hingga akhirnya Al Farghani memberi sebuah ceramah dan nasihat kepada para rahib di biara itu. Tanpa disangka mereka semua mengikrarkan diri dan secara sah masuk Islam dengan mengucap syahadat. Kemudian perjalanan pun dilanjutkan oleh Al Farghani ke Baghdad. Kali ini ia diikuti oleh para ahli ibadah dan rahib-rahib yang telah masuk Islam

 MALAIKAT BERKELILING  MENCARI ORANG YANG DZIKIR  Mugi tansah sehat, lancar, berkah, panjang yuswo njih. Aamiin  Diriwayatkan dari Abu Hurai...